Showing posts with label tokoh. Show all posts
Showing posts with label tokoh. Show all posts

Whulandary Herman

Whulandary Herman (lahir di Pariaman, 26 Juni 1989; umur 23 tahun) adalah pemenang kontes Puteri Indonesia 2013 perwakilan dari Sumatera Barat. Ia merupakan Puteri Indonesia kedua yang berasal dari Sumatera Barat, setelah Melanie Putria, yang meraih mahkota pada tahun 2002. Whulan juga akan berkesempatan untuk mewakili Indonesia dalam ajang Miss Universe 2013.

kehidupan awal dan karir
Whulan lahir dan dibesarkan di Pariaman, Sumatera Barat. Ia menyelesaikan pendidikan hingga SMA di Padang. Tahun 2007, ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta dan memulai karier dalam bidang modelling.

Langkah Whulan di dunia modeling melambung tinggi selepas mengikuti Wajah Femina 2008. Pada Februari 2010, ia meraih gelar Asian Top Model of the Year 2010 pada Fashion Asia Award yang diadakan di Hangzhou, Cina. Ia mengalahkan tiga nominator lainnya yang merupakan top model Vietnam, Cina, dan Mongolia. Sebelumnya, Whulan telah meraih Runner up ke-3 & The Best Catwalk di International Model of the Year 2009 di Korea. Setelah itu, Whulan menjadi salah satu peragawati paling terkenal di Indonesia.

Puteri Indonesia 2013
Pada tanggal 1 Februari 2013, Whulan terpilih sebagai Puteri Indonesia 2013 menggantikan Maria Selena. Dalam kontes yang digelar di Jakarta Convention Center ini, Whulan meraih dua gelar sekaligus, yaitu Puteri Indonesia 2013 dan Puteri Indonesia Favorit Kepulauan Sumatera. Whulan dan 37 peserta lainnya dari 33 propinsi di Indonesia bersaing untuk memperebutkan gelar ini. Ia adalah wanita kedua dari Sumatera Barat yang meraih mahkota Puteri Indonesia setelah Melanie Putria pada tahun 2002. Sebagai pemenang Puteri Indonesia 2013, Whulan akan mewakili Indonesia dalam kontes Miss Universe 2013.


Kehidupan pribadi
Kegiatan sehari-hari Whulan sebelum terpilih menjadi Puteri Indonesia adalah pemotretan, fashion show, dan interview tentang modeling. Di samping itu ia juga menyempatkan diri melakukan beberapa hobinya seperti travelling, menulis, memotret, menyelam, dan yoga. Ia juga tercatat sebagai mahasiswi di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Jakarta.

Prestasi
  • The Best Catwalk Covergirl Aneka Yess! 2002
  • Best Model Top Model Indonesia 2002
  • Juara 2 Pemilihan Wajah Femina 2008
  • Runner Up ke-3 dan Best Catwalk di ajang International Model of the Year 2010 di Seoul, Korea Selatan (diikuti 34 negara)
  • Juara 1 Asia Top model 2010 di China (diikuti beberapa negara Asia)
  • Puteri Indonesia Sumatera Barat 2013
  • Puteri Indonesia 2013

Sabai Nan Aluih

Alkisah hidup Radja Berbanding di negeri Padang-Tarap. Ia mempunyai dua anak, Sabai nan Aluih dan Mangkutak Alam. Sabai nan Aluih terkenal anak gadis yang cantik dan elok laku. Kemashuran kecantikannya terdengar hingga tiga luhak Lima Puluh.

Di dalam luhak Lima Puluh,Situdjuh Bandar Dalam - di Piabang Sungai Beringin duduklah radja yang bergelar Radja nan Pandjang. Suatu hari Radja nan Pandjang melihat Sabai nan Aluih. Jatuh hatinya seketika. Iman didada sudah bergoyang. Tegak resah duduk pun resah. Hati nan tidak senang diam. Si Sabai rasa tampak jua. Air diminum rasa duri. Nasi dimakan rasa sekam. Hawa nafsu tidak tertahan. Sabai dimata tidak hilang. Radja nan Pandjang menyuruh utusan ke Padang-Tarap dengan membawa sirih dengan pinang, kapur dengan gambir. Ia bermaksud meminang Sabai nan Aluih.

Mangkutak Alam adalah anak kesayangan Radja Berbanding. Ia bersutan dimatanya,ia beradja dihatinya (artinya manja). Permintaan dan kehendaknya harus diturutkan. Jika ada makanan Mangkutak yang dapat dahulu,Sabai nan Aluih mendapat sisa-sisanya. Walaupun Radja Berbanding pilih kasih dengan anak-anaknya, Sabai nan Aluih tidak berkecil hati.

Radja Berbanding menolak permintaan Radja nan Pandjang. Radja Berbanding tidak rela anaknya Sabai nan Aluih menjadi istri dari orang tua seperti Radja nan Pandjang. Radja nan Pandjang marah pinangannya ditolak, Ia mengajak Radja Berbanding untuk bertanding di hari sabtu.

Sabai bermimpi buruk. Lumbung padi rasa terbakar habis dimakan api. Bulu kuduk meremang setelah Sabai bangun dari tidurnya. Mimpi Sabai serasa pertanda buruk dan mencemaskan pikirannya. Pertemuan Radja Berbanding dengan Radja nan Pandjang tidak diberitahukan kepada Sabai tapi Radja Berbanding menepis kekhawatiran anaknya.

Radja nan Pandjang menunggu Radja Berbanding bersama dua orang teman, Lompong Bertuah dan Radja nan Kongkong. Mereka bercakap-cakap mengapa Radja Berbanding belum datang juga. Apakah ia takut dengan Radja nan Pandjang? Akhirnya Radja Berbanding datang bersama bujangnya. Masing-masing mengambil kuda-kuda untuk bersilat. Radja nan Pandjang curang dan licik, Ia memberi kode ke dua temannya. Letusan bedil memekak telinga. Radja Berbanding jatuh tersungkur. Radja nan Pandjang meninggalkan Radja Berbanding yang berdarah-darah dan sedang sekarat.

Anak gembala mengirimkan berita ke rumah Sabai nan Aluih. Mimpi buruk Sabai menjadi kenyataan. Ia bergegas membuka peti dan mengambil bedil. Ia akan menuntut orang yang telah menembak ayahnya. Tercengang orang-orang melihat Sabai di jalan yang biasanya jarang keluar halaman rumahnya.

"Mangkutak..Mangkutak..dimana anak bapak,si Mangkutak..",ujar Radja Berbanding tersengal-sengal. Sabai nan Aluih agak kesal Ayahnya memanggil Mangkutak Alam si anak kesayangan. Tak lama kemudian Radja Berbanding menghembuskan napas terakhir. "Radja nan Pandjang. Radja nan Pandjang! Biarpun hamba perempuan, lamun malu kubalas juga. Darah berbalas dengan darah. Nyawa berbalas dengan nyawa"

Radja nan Pandjang menghampiri Sabai nan Aluih. Tanpa peduli dengan duka Sabai,ia malah bermanis-manis merayu Sabai. Sabai tidak peduli. Ia menembak mati Radja nan Pandjang. Sabai nan Aluih menuntut Mangkutak,yang datang belakangan,membalaskan malu keluarga. "Tunjukkanlah kejantanan adik,tuntutkanlah malu kita". Mangkutak menolak beralasan tidak bisa menembak. Padahal Radja nan Pandjang sudah mati, Mangkutak diminta ceraikan kepala dari badannya Radja nan Panjang agar terhapus malu keluarga mereka. Ah payah lah si anak emas ini, Mangkutak mengigil ketakutan. Kedua mayat, Radja Berbanding dan Radja nan Pandjang,dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Cerita rakyat selalu mengandung nilai-nilai moral. Dari kisah ‘Sabai nan Aluih’ ini ada beberapa hal yang menurut saya adalah pesan moral dari cerita ini. Satu, Radja Berbanding tidak tergiur dengan kekuasaan dan kekayaan dari Radja nan Pandjang. Tindakan yang patut diacungi jempol. Setelah penolakan pinangan terlihat lah perangai buruk Radja nan Panjang. Dua, Duel Radja Berbanding dengan Radja nan Pandjang tidak berlangsung adil. Ini menggambarkan kelicikan dari orang yang penuh nafsu seperti Radja nan Pandjang yang menempuh berbagai cara untuk memiliki Sabai nan Aluih. Tiga, tokoh Sabai nan Aluih yang berperangai elok. Tidak disangka gadis yang sering menghabiskan waktunya menenun mempunyai keberanian yang besar. Adiknya Mangkutak Alam pun tidak berani menuntut balas atas kematian ayahnya.

Sabai nan Aluih merupakan cerita rakyat dari Minangkabau. Saya mendapatkan buku langka ini di Pasar Malam Ngarsopuro, Solo. Kisah 'Sabai nan Aluih' diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Tulis Sutan Sati,pengarang dari novel ‘Sengsara Membawa Nikmat’. Sabai nan Aluih ditulis seperti skenario drama,dibagi per bagian. Selain buku ini ditulis dalam bahasa Indonesia ejaan lama,kekhasan bahasa melayu sangat kuat. Dialog antar tokoh-tokohnya yang saling berbalas pantun. Deskripsi tokoh yang panjang-panjang dan mendayu-dayu. Ada juga kata-kata dari bahasa Minang yang saya sendiri kurang mengerti karena kata tersebut berbentuk kiasan dan harus melihat penjelasan di halaman belakang. Ceritanya walaupun singkat memberikan inspirasi untuk perempuan menjadi pribadi yang berani dan tangguh. Alangkah baiknya jika cerita Sabai nan Aluih ini kembali diceritakan dan ditulis dalam bahasa Indonesia yang sekarang agar cerita rakyat tidak punah dan dilupakan anak cucu. Saya mendapat info bahwa kisah Sabai nan Aluih ini akan dibuat film. Ditunggu film Sabai nan Aluihnya. :)

Eijkman Peringati 65 Tahun Kematian Tragis Achmad Mochtar

Jakarta, Sejumlah dokter dan ilmuwan dieksekusi tentara Jepang dengan tuduhan melakukan sabotase setelah lebih dari 1.000 romusha di Klender, Jakarta tewas usai divaksin TCD (Typhus Cholera Dysentery) pada tahun 1944. Direktur Indonesia Pertama Lembaga Eijkman, Prof. Dr. Achmad Mochtar meminta para peneliti dibebaskan dengan taruhan dirinya dieksekusi pada 3 Juli 1945.

Bertepatan dengan 65 tahun kematian Prof. Dr. Achmad Mochtar, Lembaga Biologi Molekul Eijkman melakukan renungan di makam sang profesor di Pemakaman Ereveld, Kawasan Ancol, Jakarta, Sabtu (3/7/2010).

Acara renungan yang bertajuk 'Dawn Memorial Service of Prof. Dr. Achmad Mochtar' kali ini menjadi istimewa, karena dua ilmuwan Eijkman Prof Sangkot Marzuki dan J. Kevin Baird, bulan lalu berhasil mengungkap lokasi makam sang profesor yang selama ini masih misterius.

Berdasarkan catatan salah seorang petugas militer Jepang, Prof Achmad Mochtar dieksekusi pada tanggal 3 Juli 1945. Ia lalu dikuburkan secara massal bersama dokter lain yang tewas di dalam tahanan, dan sejak saat itu tidak seorangpun tau di mana letak makamnya.

Menurut Sangkot dan Baird, seorang asisten Achmad Mochtar yaitu Ali Hanafiah sebenarnya telah menemukan makam tersebut pada akhir tahun 1976. Ia menuliskan dalam sebuah memoar pada tahun 1977, namun catatan terebut hanya diketahui oleh keluarganya sendiri.

Informasi mengenai makam tersebut justru ditemukan oleh Sangkot dan Kevin dalam arsip milik Institut Dokumentasi Perang yang ada di Amsterdam. Setelah mendapatkan info, pada 10 Juni 2010 keduanya mendatangi makam Evereld, sebuah pemakaman Belanda di kawasan Ancol, Jakarta.

Pada lokasi yang ditunjukkan oleh Institut Dokumentasi Perang, nama Mochtar ternyata tidak ditemukan. Baru setelah dicek satu persatu, Sangkot dan Kevin menemukan nama Mochtar di lokasi lain di dalam pemakaman tersebut.

"Ternyata sumber dari Amsterdam itu juga tidak akurat. Oleh karena itu saya yakin, selain Ali Hanafiah pada tahun 1966, belum ada seorangpun yang menemukan makam ini. Kalau ada, tentunya data itu sudah dikoreksi," ungkap Sangkot dalam acara renungan di makam Ereveld, Ancol, Sabtu (3/7/2010).

Tidak hanya menemukan lokasi makam, Sangkot dan Kevin juga berhasil mengumpulkan beberapa keturunan Prof Achmad Mochtar. Dua cucu perempuan Mochtar, yakni Moniq dan Jolanda yang tinggal di Belanda akhirnya hadir dalam acara renungan yang baru pertama digelar di makam tersebut.
Sekilas Prof. Dr. Achmad Mochtar
Terlahir di Sumatra Barat tahun 1892, Mochtar lulus dari sekolah kedokteran STOVIA tahun 1916 dan mengambil 2 tahun penempatan wajib di klinik terpencil di Panyabungan Sumatera Utara. Disana bertemu dengan W.A.P Schuffner, peneliti mikroskopik longitudinal pertama pada parasit malaria.

Berkat pengaruh Schuffner, administrasi kolonial Belanda di Indonesia (saat itu disebut Netherlands East Indies) memberangkatkan Mochtar ke Universitas Amsterdam untuk meraih gelar doktor.

Dalam tulisan tesisnya tahun 1927 dia menulis soal leptospira, dimana saat itu sebagian besar menyangkal bahwa leptospira menyebabkan demam kuning. Promotor utamanya adalah Hideyo Noguchi, ahli mikrobiologi Jepang yang pada tahun 1911 membuktikan bahwa ada jenis spirochete merupakan penyebab neuropati syphilis.

Mochtar kembali ke Indonesia dan melanjutkan penelitian mengenai leptospirosis sebelum bergabung dengan fasilitas penelitian biomedis terbaik, the Central Medical Laboratory di Indonesia tahun 1937. Mochtar kemudian ditunjuk sebagai direkturnya yang kemudian lembaganya berganti nama menjadi Eijkman.

Tragedi Klender
Pada bulan Juli 1944 di sebuah kampung Romusha atau kerja paksa di Klender Jakarta geger setelah ratusan romusha mendapatkan suntikan vaksin tifus, kolera dan disentri yang kemudian tewas. Sebenarnya pemberian vaksin itu bukan dilakukan oleh Lembaga Eijkman tapi Lembaga Pasteur Bandung yang pada waktu itu dikelola oleh militer Jepang.

Seperti dikutip Science Magazine, edisi 2 Juli 2010, beberapa detail dari peristiwa Romusha itu mungkin tidak akan pernah terungkap. Simpang siur, misalnya, berapa Romusha yang disuntik vaksin yang perkiraannya sebanyak 1500 orang.

Para pekerja ini menderita penyakit dengan gejala tetanus, lalu Jepang meminta para dokter dari Eijkman untuk mengobatinya.

Peneliti dari Lembaga Eijkman ketika itu berhasil menemukan kontaminasi racun tetanus dalam vaksin yang diberikan kepada para Romusha. Celakanya, Jepang justru menuduh para peneliti punya skenario di balik kontaminasi tersebut.

Sejumlah dokter dan staf Lembaga Eijkman ditangkap dan disiksa agar mengaku, termasuk Prof Dr Achmad Mochtar direktur yang menjabat saat itu.

"Orang Jepang menggambarkannya sebagai wabah meningitis (radang selaput otak), tapi pemeriksaan melalui fungsi sumsum tulang mengatakan lain," kata Baird seperti dikutip dari Science Magazine.

Suatu tim medis yg dipimpin oleh Bahder Djohan segera membawa sekitar 90 Romusha yang belum terlalu parah sakitnya ke beberapa rumah sakit pusat di Jakarta untuk terapi antitetanus, tapi nyawa mereka tidak dapat diselamatkan.

Beberapa minggu sesudahnya, para peneliti Eijkman yang menganalisa hasil autopsi sampel jaringan berkesimpulan bahwa ternyata vaksinnyalah yang telah terkontaminasi oleh racun tetanus.

Tapi temuan itu justru membuat Jepang marah. Pada bulan Oktober 1944, Kenpeitai (tentara Jepang) menangkap Mochtar dan rekan-rekannya dan juga para dokter dan staf di rumah sakit yang melakukan vaksinasi. Para tawanan itu mengatakan bahwa mereka dipikuli, disetrum, dibakar dan dituang air. Seorang dokter tewas ketika sedang disiksa dan seorang lainnya mati di dalam tahanan.

Orang-orang di Institut Eijkman yang selamat dibebaskan pada bulan Januari 1945 kecuali Mochtar. Diduga Mochtar meyakinkan agar mereka dibebaskan dibebaskan dengan imbalan bersedia menjadi tahanan.

Mochtar kemudian dihukum pancung pada tanggal 3 Juli 1945. Berdasarkan penelusuran buku harian salah satu perwira Jepang, mayatnya kemudian digilas dengan mesin giling dan sisa-sisa tubuhnya dibuang ke pemakaman massal di Evereld Ancol.

Direktur Lembaga Eijkman saat ini, Prof Sangkot Marzuki menilai berbagai bukti menunjukkan Prof Achman Mochtar tidak bersalah dalam tragedi tersebut. Saat melakukan penelusuran bersama J Kevin Baird, sejawatnya yang memimpin

Eijkman-Oxford Clinical Research, ia menemukan sejumlah kejanggalan.

Salah satunya terkait kondisi kampung Romusha di Klender yang sangat menyedihkan, seperti dikatakan oleh beberapa sumber yang diperoleh Sangkot dan Kevin. "Untuk apa Jepang mem-vaksin orang-orang yang bahkan tidak mereka beri makan?" tanya Sangkot penasaran.

Dugaan lalu mengarah pada kemungkinan bahwa kampung Romusha di Klender telah dijadikan kampung percontohan. Sangkot dan Kevin meyakini, tragedi Klender merupakan eksperimen medis karena salah satu sumber menyebut bahwa vaksin yang digunakan mengandung basil atau mikroorganisme mematikan.

Dokumen yang secara tidak langsung mendukung dugaan tersebut adalah arsip pengadilan di Australia terkait kejahatan perang yang berlangsung tahun 1945. Pengadilan terebut menjatuhkan vonis 4 tahun penjara terhadap tokoh militer Jepang, Hirosato Nakamura.

Dalam peristiwa yang berbeda dari tragedi Klender, Nakamura dinyatakan bersalah karena menewaskan 15 dari 17 narapidana di Indonesia dalam sebuah uji coba vaksin tetanus. Sementara 2 narapidana lainnya dieksekusi mati, agar tidak membocorkan eksperimen yang gagal tersebut.(up/ir)

sumber

ZUBIR SAID (Musisi Minang Pencipta Lagu Kebangsaan Singapore)

Ini adalah nama Melayu; nama "Said" merupakan patronimik, bukan nama keluarga, dan tokoh ini dipanggil menggunakan nama depannya, "Zubir".
Zubir Said (lahir di Fort de Kock (sekarang kota Bukittinggi, Sumatera Barat), Hindia Belanda, 22 Juli 1907 – meninggal di Singapura, 16 November1987 pada umur 80 tahun) adalah seorang musisi dan komponis Singapura keturunan Minangkabau. Ia lebih dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Singapura, "Majulah Singapura", yang ia ciptakan saat masih memiliki kewarganegaraan Indonesia pada tahun 1958.

Zubir merupakan seorang musisi otodidak yang dijuluki sebagai komponis dengan "jiwa Melayu sejati". Ia dipercaya telah menggubah lebih dari 1.500 lagu, namun hanya 1.000 di antaranya yang telah dipublikasikan. Selama 12 tahun ia bekerja sebagai penggubah musik dan penulis lagu di salah satu perusahaan penerbit film Melayu, Cathay Keris yang merupakan anak perusahaan dari Cathay Holding Organization.

Masa kecil
Zubir dilahirkan pada tanggal 22 Juli 1907 di kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia merupakan anak sulung dari keluarga Minangkabau yang beranggotakan 3 anak laki-laki dan 5 anak perempuan. Ibunya meninggal ketika ia masih berusia 7 tahun. Zubir menempuh pendidikan di sekolah-sekolah Belanda, namun tidak memiliki ketertarikan dengan studi akademik, melainkan lebih tertarik dengan musik. Sejak sekolah dasar, ia telah diajari bagaimana cara membuat dan memainkan suling oleh temannya. Kemudian di sekolah menengah pertama, ia mulai mempelajari cara memainkan gitar, drum, dan alat musik lainnya.


Merantau ke Singapura
Pada tahun 1928, saat menginjak usia 21 tahun, Zubir memutuskan untuk mulai mencari nafkah sebagai musisi di Singapura, sesuai saran dari temannya. Pekerjaan pertama Zubir di pulau yang dijuluki temannya sebagai tempat yang penuh dengan gemerlap lampu tersebut adalah sebagai musisi bersama kelompok opera Melayu City Opera, dimana ia menjadi pemimpin kelompok opera tersebut.

Pada tahun 1938, Zubir meninggalkan Singapura untuk melangsungkan pernikahan di pulau Jawa dengan Tarminah Kario Wikromo, penyanyi keroncong yang telah ia kenal saat mulai bekerja di perusahaan rekaman His Master's Voice pada tahun 1936. Setelah menikah, ia membawa istrinya mengunjungi kotakelahirannya di Bukittinggi pada tahun 1941, sebelum pecahnya Perang Dunia II. Ia kembali ke Singapura pada tahun 1947, tidak lama kemudian ia sempat bekerja sebagai juru foto di surat kabar Utusan Melayu. Pada tahun 1949, ia menjabat sebagai pemimpin perusahaan Shaw Brothers Malay Film Production. Tiga tahun kemudian, ia menjadi penggubah musik di salah satu perusahaan penerbit film Melayu, Cathay Keris, dan menjadi penulis lagu untuk film-film sepertiSumpah Pontianak (1958) dan Chuchu Datuk Merah (1963). Pada tahun 1957, untuk kali pertama karya musiknya dipentaskan untuk umum di Teater Victoria.

Masa selanjutnya
Pada tahun 1962, lagu Zubir untuk film Dang Anom memenangkan penghargaan dalam ajang Festival Film Asia yang kesembilan di Seoul, Korea Selatan. Saat itu, ia masih bekerja di perusahaan film Cathay Keris. Sebelumnya, ia juga telah menciptakan banyak lagu terutama untuk film-fim Melayu. Namun pada tahun 1964, ia memutuskan untuk tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut karena kecewa dengan keputusan manajemen yang memangkas biaya produksi. Sejak saat itu, ia lebih serius mengajar seniman-seniman muda tentang musik dibanding mengurusi rekaman lagu-lagunya. Putri ketiga Zubir yang merupakan mantan dosen Universitas Nasional Malaysia, Puan Sri Dr. Rohana Zubir, ingat betul bagaimana rumah keluarganya di Singapura selalu diisi dengan kegiatan maupun hal-hal yang berbau musik.

Selain semangatnya sebagai musisi, telah menjadi buah bibir bahwa Zubir memiliki tingkat kepedulian yang sangat tinggi dan mau berbagai, sehingga jerih payah dari hasil pekerjaannya dapat bermanfaat bagi orang lain. Di lain sisi, ia juga membantu keluarganya di Sumatera dan keluarga yang telah mengadopsinya di Singapura dengan mengirimkan mereka obat-obatan maupun bantuan lain yang mampu ia berikan, meskipun keluarganya sendiri tidak kaya pada waktu itu. Zubir mengatakan bahwa ia tidak pernah tergiur dengan uang, meskipun hal itu penting untuk kelangsungan hidup keluarganya. Namun, ia percaya bahwa uang yang diperoleh dari memberikan pelajaran musik dan menulis lagu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ia mengutamakan kejujuran dalam bekerja, terutama orisinalitas dalam menghasilkan suatu karya.

Zubir tutup usia pada usia 80 tahun di Joo Chiat Place, Singapura, tepatnya pada tanggal 16 November 1987. Ia meninggalkan seorang istri, empat orang putri, dan seorang putra. Pada tahun1990, kehidupan Zubir dan semangatnya sebagai musisi didokumentasikan dalam sebuah buku berjudul Zubir Said: His Songs (Zubir Said: Lagu-lagunya). Kemudian pada tahun 2004, patungZubir yang terbuat dari perunggu dipajang di Taman Warisan Melayu, Singapura.

Minang Saisuak #118 - Abdoel Chalid Salim (1902-1985): dari Simpatisan PKI ke Kayu Salib

Koto Gadang mungkin nagari yang penuh rahasia, karena orang-orang keturunan warga nagari di tubir Ngarai Sianok itu bermacam ragam kulikat intelektuilnya. Salah seorang di antaranya adalah Abdoel Chalid Salim, adik Haji Agus Salim.

Chalid lahir di Tanjung Pinang pada 24 November 1902. Saat itu ayahnya, Sutan Muhammad Salim, sedang bertugas di kota ‘dollar’ Kepulauan Riau itu. Pria asal Koto Gadang itu adalah seorang hoofddjaksa dalam jajaran Departemen BB Belanda yang sudah ditugaskan di banyak tempat, termasuk di Padang dan Medan.

Chalid tidak sempat mengenal ibunya karena sang ibu meninggal ketika ia masih bayi. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan Widna Roemaniah. Chalid 13 orang bersaudara, tapi hanya 7 orang yang berumur panjang, yang tertua adalah Haji Agus Salim yang kemudian menjadi diplomat kawakan Indonesia, republik balita yang baru lepas dari hisapan mencucut ‘palasik kuduang’ Belanda. Chalid mengatakan dalam otobiografinya,Vijftien Jaar Boven-Digoel (1973) bahwa keluarganya sehari-hari di rumah berkomunikasi dalam bahasa Belanda karena ayahnya termasuk golongan elit pribumi dalam sistem administrasi kolonial Hindia Belanda.

Chalid bersekolah di MULO Batavia tahun 1923, mengikuti ayahnya yang memilih tinggal di ibukota Hindia Belanda itu setelah pensiun. Setelah itu ia berkerja di onderneming Soember Moedjoer di Lumajang. Kemudian ia mengikuti saudaranya, Jacob Salim, di Pontianak. Di sana ia menjadi anggota redaksi Halilintar Hindia, sebuah berkala yang menjadi corong PKI, dan mendirikan Partai Sarekat Rakyat dengan Koesno Goenoko.

Kemudian Chalid kembali ke Jawa dan menepat ke Surabaya. Di sana ia bertemu dengan Moeso dan menjadi anggota redaksi berkala merah Proletar. Tahun 1925 Pemerintah Kolonial Belanda melakukan politik pembersihan. Chalid terpaksa kembali ke kampungnya di Koto Gadang. Waktu itulah sepupunya, Miswar (yang juga anggota PKI dan kemudian didigulkan), memberitahukan bahwa Tan Malaka datang ke Singapura dan mendesak Chalid pergi ke sana untuk bertemu dengannya.

Dalam situasi sulit Chalid berencana ke Singapura lewat Jambi dan Bagan Siapi-Api, atau lewat Pontianak, tapi urung. Akhirnya ia menyelinap ke Medan. Di sana ia menulis untukPewarta Deli di bawah nama pena Katjong Betawi. Agen-agen Politiek Inlichting-dienstBelanda mencokoknya di Medan pada 12 Oktober 1927. Pada tahun itu juga ia dikirim ke Digul.

Tahun 1943, menyusul serbuan si Fasis Jepang ke Indonesia, Chalid Salim dan para digulis lainnya diungsikan Belanda ke Australia. Di Melbourne ia bekerja untuk mingguanPenjuluh yang menjadi media ‘Nederlandsch-Indische propaganda’ di bawah NIGIS (Netherlands Indies Government Information Services). Inilah yang disebut oleh Harry Poeze (2012) sebagai ‘the strange alliance of Dutch authorities and Digoel exiles in Australia, 1943-1945′.

Terkepung oleh dilema (kalau balik ke Indonesia takut dibantai Jepang), Chalid Salim memilih pergi ke Belanda, tanah air para penjajah yang sudah mendigulkannya. Kapal Belanda Volendam ‘mendamparkannya’ di Rotterdam pada 3 Oktober 1946. Dalam otobiografinya, Chalid mengaku seperti berada di ‘tanah airnya’ sendiri karena sejak kecil sudah hidup dalam budaya Belanda (hlm. 357). Di Belanda, Chalid bertemu Erna, seorang gadis Indonesia yang akrif dalam stichting ‘Nederland helpt Indie’. Chalid dan Erna menikah di Amsterdam pada 28 Januari 1958 (hlm. 369).

Negeri Eropa yang dingin benar-benar mengubah jalan hidup dan pikiran Chalid. Ia menjadi pemeluk Kristen dengan nama baptis Ignatius Franciscus Michael Salim(sering disingkat: I.F.M. Salim). Belum diperoleh keterangan kapan persisnya ia dibaptis dan di mana. Kekristenannya dicelakkannya benar dalam otobiografinya yang dibuka dengan kutipan Injil: Matheus 20, 16. Jika sudah begitu apa hendak dikata, Ranah Bundopun mungkin akan menjauh darinya.

Foto ini merekam pertemuan Chalid Salim dan keluarganya dengan Abang ‘kecil’nya, Haji Agus Salim, di Amsterdam tahun 1953. Bujang yang berdiri di kiri Chalid Salim adalah Sjahzan, adik Sutan Sjahrir. Cukup kontras gaya fashion kedua kakak beradik itu dan tentu cukup banyak cerita yang dapat dibuat tentangnya. Belum diperoleh keterangan apakah pada waktu itu Chalid sudah menyembah ‘kayu berjupang’ atau belum. Konon ketika belakangan Haji Agus Salim diberitahu bahwa adiknya sudah memeluk Kristen, si Abang hanya berkomentar: Baguslah sekarang dia sudah percaya kepada Tuhan.

Belum saya temukan tacatan apakah sesudah menjadi umat Kristiani, I.F.M. Salim pernah lagi merasakan hangatnya udara Minangkabau, khususnya Koto Gadang. Yang saya temukan: ia meninggal di Belanda pada 10 Maret 1985 dan dimakamkan di Pemakaman Rijswijk Eikelenburg, Zuid-Holland. Inilah kisah seorang lagi anak Minangkabau yang telah manuka kabilaik-nya dalam alunan riak rantau dan hilang dibawa ‘angin limbubu’. Kalau ada orang Koto Gadang yang berkunjung ke Belanda, sempatkan jugalah mengunjungi pusaro anak-kemenakan yang telah tabuang jauah itu.

Suryadi - Leiden, Belanda. (Sumber foto: Vijftien Jaar Boven-Digoel. Amsterdam: Uitgeverij Contact, 1973: di muka hlm.224). | Singgalang, Minggu, 6 Januari 2013

Pancasila Harus Dipegang Teguh

Bung Hatta: Pancasila Harus Dipegang Teguh

Perlulah saya uraikan sepintas tentang isi dan inti dari Pancasila itu.*)
Pancasila artinya 5 dasar untuk pedoman menyusun negara, yaitu
1. Ketuhanan Yang Maha Esa;
2. Perikemanusiaan ;
3. Kebangsaan;
4. Kedaulatan Rakyat;
5. Keadilan Sosial.

Isi dari dasar Ketuhanan Yang Maha Esa ialah mengakui suatu kekuasaan di atas manusia. Dasar ini oleh semua golongan bisa dipakai menurut agamanya masing-masing. Masing-masing golongan bisa memahami arti Ketuhanan Yang Maha Esa itu menurut paham agamanya. Tetapi, nyatalah bahwa inti dari Ketuhanan Yang Maha Esa itu ialah penghargaan manusia sebagai makhluk Tuhan. Jikalau di antara manusia dengan manusia tidak ada harga menghargai, maka tidak bisa dicapai suatu susunan dunia. Di antara manusia ada yang kaya ada yang iniskin, ada yang berbeda kecakapannya, ada yang bodoh ada yang pintar, tetapi sebagai manusia makhluk Tuhan ia dipandang sama.

Selain dari persaudaraan antara manusia dengan manusia, juga supaya dunia yang terganggu dengan perang bisa terhindar dari bencana. Itulah tujuan dari segala agama. Dan juga menjadi tujuan dari semua ideologi yang berdasar sosialisme.

Selain dari itu pada bagian ketiga kita harus menyelenggarakan persahabatan antara bangsa dengan bangsa. lni penting sekali untuk masa yang akan datang, untuk mencapai dunia yang berdasarkan perdamaian yang kekal. Perang pada waktu ini semakin hari semakin hebat. Dulu yang mati di dalam peperangan hanyalah prajurit; yang berada di kota-kota selamat, malahan dalam hukum internasional pada abad yang lalu diadakan peraturan untuk melindungi penduduk sipil dengan mengadakan peraturan kota terbuka, yang tidak boleh ditembaki. Tetapi dalam Perang Dunia I tahun 1914 dasar ini sudah dilanggar dan malahan pada Perang Dunia II orang tidak merasa aman lagi. Orang menggali lubang dan hidup di dalam lubang, takut tertimpa hujan bom. Dengan timbulnya kapal udara, bahaya perang semakin hebat, seolah-olah manusia kembali ke abad belakang, mencari lubang untuk perlindungan diri. Sekarang dengan adanya atom orang merasa lebih lebih tidak aman lagi. Atom bisa menjalar sampai ke lubang-lubang dan ini berarti di dalam kota pun orang akan tidak merasa aman lagi. Inilah akibat dari peperangan sekarang. Jikalau kita lihat perang Korea sekarang akan tampak berapa banyak kota yang binasa, berpuluh juta yang tewas, sedang di antara yang tewas banyak pula rakyat biasa daripada mereka yang tewas di medan perang.

Keganasan peperangan sekarang ini menuntut kita menyelenggarakan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Inilah pedoman kita untuk menjalankan politik luar negeri di atas dasar, harga-menghargai. Jikalau hanya kita yang berjuang ke jurusan ini, sedangkan bangsa-bangsa lain tidak turut serta, maka cita-cita ini tidak akan tercapai.

Tapi bagaimanapun itulah cita-cita kita, itulah dasar hidup kita, harga menghargai.

Jikalau ada suatu bangsa yang mau menghina kita, kita tidak ingin bersahabat dengan dia. Kita hanya bersahabat jikalau ada saling harga menghargai.

Kedua, selain dari Ketuhanan Yang Maha Esa, kita menuntut pula penghargaan manusia sebagai makhluk. Kita harus pula menjalankan segala usaha dengan kesucian hati dan perbuatan. Kalau tidak maka kita tidak sanggup memimpin negara kita ke jalan kemajuan. Ini juga adalah kelanjutan dari dasar Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dasar yang kedua ialah dasar Perikemanusiaan. Dasar Perikemanusiaan ini tidak lain dari penyelenggaraan dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Di dalam prakteknya selain dari itu kita juga mencapai perhubungan antara manusia dengan manusia, umpamanya perhubungan antara majikan dengan buruh. Kita tidak bisa mengizinkan suatu hubungan yang berdasarkan perbudakan. Ini tidak saja mengenai majikan asing, tetapi juga antara kita sama kita. Kita mengingini penghargaan terhadap buruh sebagai seorang manusia.

Selain dari itu hubungan antara kapital dengan buruh yang nanti akan saya bentangkan lebih jauh. Pokoknya di dalam hubungan antara kapital dengan buruh kita harus menyelenggarakan dan mencapai perikemanusiaan, supaya penghidupan buruh semakin hari semakin baik.

Dasar yang ketiga ialah Kebangsaan. Yang pertama kali ialah pengakuan bahwa kita adalah bangsa yang satu. Saudara-saudara barangkali masih ingat dengan janji dan sumpah pemuda pada tahun 1928 yang mengakui bahwa kita hanya berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia, bertanah air satu tanah air Indonesia, berbahasa satu yaitu bahasa persatuan Indonesia Inilah yang kita selenggarakan di dalam proklamasi. Negara kita bukanlah negara yang berpecah-pecah. Tentang susunan ke dalam kita bisa bertukar pendapat, ada yang menganggap susunan federasilah yang baik dan ada yang menganggap negara kesatuanlah yang terbaik. Tetapi bagaimanapun, dalam menghadap ke luar kita tetap satu. Dasar persatuan kebangsaan harus diselenggarakan, karena kita tidak mau diadu-domba.

Kita hanya satu bangsa, satu tanah air. Inilah kelanjutan dari dasar kebangsaan.

Selanjutnya negara kita adalah negara nasional, bukan negara internasional. Dan kita harus mempertahankan dasar ini, yang akan memberikan kedaulatan di tangan rakyat kita sendiri. Kalau kita mengakui negara kita ini negara internasional, maka kedaulatan tidak berada di tangan rakyat, tetapi berada di tangan orang, organisasi atau negara di luar kita. Dasar dari kebangsaan ini ialah satu pengakuan bahwa negara kita ini adalah negara nasional, yang menentang semua ideologi yang akan membawa penjajahan asing, penjajahan yang datangnya dari ideologi penjajahan dari satu negara atau penjajahan dari satu bangsa. Kita harus mengakui adanya kedaulatan di tangan negara kita. Hal ini saya tegaskan supaya kita dapat memelihara tanah pusaka, supaya kemerdekaan kita kekal.

Memang ada aliran, yang mau menaklukkan kita ke dalam kekuasaan asing. lni mesti kita tentang. Kita sudah berjuang mati-matian untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda, dan kita tidak ingin dijajah kembali, walau di mana pun juga pusatnya penjajahan itu.

Dasar yang keempat ialah Kerakyatan atau kedaulatan rakyat yang sering dikatakan demokrasi. Demokrasi adalah dasar dari cita- cita rakyat. Untuk menyelenggarakan cita-cita itu kita mengadakan pemerintahan negara yang berdasarkan parlemen yang dipilih dari waktu ke waktu, supaya rakyat bisa mengkontrolnya. Jikalau anggota parlemen diangkat seumur hidup, terhadap dia tidak ada kontrol. Waktu dilakukan pemilihan ia mau memberikan janji-janji yang muluk. Untuk mengoreksi pekerjaan anggota parlemen, maka diadakan sistem pemilihan sewaktu-waktu. Pada tiap negara demokrasi dapat dilihat adanya sistem pemilihan sewaktu-waktu supaya rakyat bisa memutuskan tentang siapa yang akan diutus duduk di dalam parlemen.


Pemerintah juga terdiri dari golongan yang terbanyak dalam parlemen. Memang da- sar ini belum sempurna kita selenggarakan. Demokrasi kita baru tumbuh. Dalam penja- jahan asing kita belum mempunyai demokrasi, dan kita baru mencoba menum- buhkan demokrasi. Untuk mencapai jalan yang sebaik-baiknya dapat diselenggarakan, jikalau kita mempunyai rasa tanggungjawab atas diri sendiri, karena kelanjutan atau syarat, dari demokrasi pada rakyat harus diletakkan rasa tanggung jawab untuk tidak mengutus siapa-siapa saja yang dapat memberikan janji-janji yang baik. Pemerintah demokrasi ialah pemerintah yang bertanggung jawab terhadap DPR dan DPR bertang- gung jawab pula kepada rakyat. Adalah kewajiban bagi kita untuk mempertebal rasa tanggung jawab ini antara satu sama lainnya, untuk menyelenggarakan demokrasi yang sebaik-baiknya.

Sistem otonomi adalah penyelenggaraan sistem pemerintahan rakyat dengan mendekatkan pertanggungan jawab kepada rakyat. Jikalau di pusat saja diadakan demokrasi, maka kontrol dari rakyat jauh sekali dan tidak langsung.

Juga di dalam menyelenggarakan ini terdapat kesulitan dan entah berapa lama lagi kita harus menyusun negara kita supaya demokrasi berjalan baik. Jikalau terlalu banyak tingkatan demokrasi akan timbul kekacauan. Untuk sementara kita mengambil 4 tingkat, yaitu pusat, pemerintahan provinsi, pemerintahan kabupaten dan pemerintahan desa. Demokrasi yang lebih dekat kepada rakyat ialah dalam pemerintahan desa. Di dalam pemerintahan desa, hampir seluruh orang desa dapat memutuskan apa yang baik bagi mereka. Di dalam mengadakan 4 tingkat demokrasi ini usaha kita berlain-lainan. Umpamanya perundingan di desa mengenai semata-mata kepentingan desa membicarakan pembikinan tempat mandi, membersihkan saluransaluran air dan memberikan hak-hak otonomi bagi yang bisa diurus dalam lingkungan yang lebih kecil.

Pemerintahan desa bukanlah tempatnya mempersoalkan apakah Indonesia masuk ke dalam UNO atau tidak. Ini perlu sekali diperhatikan, karena pernah pada tahun 1947 ketika saya mengelilingi Sumatra Timur desa desa ikut memperbincangkan soal Linggarjati. Politik luar negeri tempatnya adalah di parlemen.

Pada waktu ini kita belum mempunyai undang-undang dan peraturan yang membagi kekuasaan masing-masing. Sedikit hari lagi tentu ada peraturan pembagian kekuasaan, supaya betul-betul rakyat melakukan pemerintahan sendiri untuk mengatur kepentingan sendiri.

Pusat otonomi kita nanti terletak di kabupaten. Sedangkan provinsi adalah badan yang mengkoordinasikan otonomi yang berada dalam lingkungannya. Besar pengharapan saya, supaya Saudara-saudara yang terpandang sebagai pemimpin rakyat maupun di dalam jabatan atau organisasi, supaya mematangkan rakyat dan merasakan tanggung jawab yang besar ini. Jikalau tidak dirasakan tanggung jawab ini, maka segala badan yang didirikan tidak akan berhasil. Inilah tujuan kerakyatan kita.

Demokrasi kita baru tumbuh, karena kita masih belum bisa meletakkan dasar kepartaian semata-mata. Misalnya tentang kabinet Natsir, yang tidak dapat kita namakan apakah kabinet parlementer, karena tidak semua aliran dari golongan-golongan yang ada di dalam parlemen duduk di dalamnya. Juga apakah ia dapat dinamakan zaken kabinet, karena di dalam zaken kabinet, kepartaian tidak perlu diperhatikan.

Ada yang mengatakan ekstra parlementer kabinet, dan bagi saya inilah yang lebih dekat. Kabinet yang disebut ekstra parlementer kabinet adalah bertanggung jawab kepada parlemen, tetapi susunan orangnya tidak langsung dari anggota-anggota yang terkemuka dari partai-partai. Mungkin susunan pemerintahan sekarang ini dapat dikatakan ekstra parlementer kabinet, karena kabinet dibentuk di atas perembukan partai-partai yang menyusunnya. Sudah nyata bahwa masih tidak sesuai 100 persen dengan kabinet parlementer, karena pada umumnya kepartaian belum lagi mendalam di kalangan rakyat dan belum mempunyai ahli-ahli yang cakap yang terkenal politisi. Di Inggris semua yang duduk di dalam parlemen adalah orang-orang ahIi. Tetapi intelektual kita belum begitu maju, sehingga partai-partai belum ada yang mempunyai ahli di dalam lapangan sosial, di lapangan keuangan, pengajaran dan lain-lain. SebaIiknya yang mempunyai keahlian tidak mempunyai partai, demikian menurut kebanyakannya, sehingga sukar bagi seorang perdana menteri memilih susunan kabinet dari semua partai.

Di Inggris, Ernest Bevin, bukanlah seorang ahli, tetapi ia seorang yang kuat di dalam partai. Tidak begitu sulitnya karena departemen-departemen di Inggris telah lengkap dan dapat berjalan. Di Prancis kontak antara menteri dengan parlemen sangat sedikit, karena kabinetnya sering sekali berubah-ubah. Ada umur kementerian yang hanya 3 hari, ada yang sampai 1 bulan dan malahan sebelum Perang Dunia II ada dewan kementerian yang berumur 1 hari. Sudah teranglah dengan berubah-ubahnya susunan kabinet itu, jikalau semua kementerian bergantung pada menteri, pekerjaan kementerian tidak akan berjalan. Dalam keadaan yang seperti itu kekuasaan pegawai sangat besar. Menteri hanyalah memberikan beleid umum yang menjadi dasarnya kementerian-kementerian. Dalam pimpinan harian, kabinet tidak banyak turut mencampuri.

Dalam kehidupan sekarang ini tuntutan terhadap menteri sangat sulit, karena kita baru bekerja dengan pegawai-pegawai yang tidak cukup. Tidak heran jikalau pegawai tinggi dalam kementerian terpaksa mengalami overwerk (artinya kerja lembur), terpaksa pulang membawa map untuk mengerjakan yang tidak bisa dikerjakan di kantor, sehingga menteri-menteri pada umumnya kekurangan waktu. Jadi jikalau ada menteri yang overwerk atau beristirahat, itu bukanlah ganjil. Sebagai akibat kekurangan tenaga maka banyak soal yang harus diurus sendiri oleh menteri, sehingga menteri-menteri kita dituntut pula harus mempunyai keahlian. Kita terpaksa pula mempergunakan tenaga asing yang tentunya memakan biaya yang besar, karena mereka tidak mau dibayar menurut schaal kita.

Sekarang nyatalah bagi Saudara-saudara bahwa untuk menjalankan demokrasi haruslah dengan mempertebal tanggung jawab di dalam diri sendiri. Dan yang paling penting ialah di dalam segala usaha haruslah ada kejujuran. Jangan hanya mencari kemenangan dengan menegakkan benang basah, jangan melakukan oposisi saja, tetapi maunya secara gentleman. lnilah yang mesti kita selenggarakan, yaitu politik yang berdasar kejujuran dan kesucian. Kalau tidak pemerintahan demokrasi kita akan menjadi anarki.

Tidak sembarang orang yang bisa menjadi seorang politikus. Seorang profesor yang pintar umpamanya, masih belum tentu dapat menjadi seorang politikus. Politikus menuntut adanya kecakapan yang tersendiri. Dan sebaliknya ada orang dapat menjadi seorang staatsman, karena staatsman menghendaki tuntutan yang lain pula. Seorang politikus bisa memperjuangkan cita-cita yang menjadi prinsipnya di dalam parlemen
secara setajam-tajamnya. Tetapi sebaliknya seorang staatsman tidak boleh berbuat seperti itu. Kita umpamakan jikalau satu partai yang menjalankan pemerintahan, ia tidak boleh menjalankan pemerintahan itu menurut prinsipnya sendiri. Contoh seperti ini dapat dilihat dengan Labour Party di Inggris.

Jikalau sebagai pemerintah sekarang dipakai main prinsip-prinsipan maka pada pemerintahan yang akan datang dasar yang dipakai sekarang ini terpaksa diubah. Pemerintah di dalam dasarnya sering mengambil jalan tengah.

Selain dari itu tuntutan terhadap pegawai berlainan pula, karena tuntutan yang terpenting bagi seorang pegawai ialah keahlian. Pegawai harus mendapat kesempatan mengerjakan keputusan-keputusan yang telah diambil oleh pemerintah. Untuk dijadikan seorang pegawai ada tuntutan yang istimewa, yaitu mempunyai kecakapan di dalam pekerjaannya sendiri. Tidak sembarang orang yang bisa mengepalai rumah sakit, atau mendatangkan kemakmuran umpamanya, karena ia menghendaki pengetahuan di dalam bagiannya masing-masing. Dan pula sebaliknya tidak semua pegawai yang cakap bisa menjadi seorang staatsman atau politikus.

Sebab itulah salah sekali jikalau seorang pegawai yang cakap di dalam jabatannya lalu diambil menjadi menteri, sedangkan kehidupan seorang menteri adalah tidak kekal. Sesudah habis ia menjadi menteri maka pekerjaannya akan terlantar. Dalam menuruti tiga kategori ini, kita harus memilih yang sebaik-baiknya dan mengambil perbedaan yang jelas dari padanya. Kita di dalam hal ini banyak sekali telah berbuat kesalahan, sehingga ada terjadi seorang pegawai yang ahli dijadikan menteri. Kejadian ini adalah juga sebagai lanjutan dari tuntutan demokrasi kita.

Dasar yang kelima ialah Keadilan Sosial. Supaya di dalam masyarakat kita ini kita mencapai suatu masyarakat yang mempunyai keadilan sosial, terutama haruslah kita mencapai demokrasi di dalam ekonomi. Kita harus menyelenggarakan supaya di dalam perusahaan-perusahaan buruh mendapat kedudukan yang pantas sesuai dengan pekerjaannya. Selain dari itu kita harus pula menyebarkan pengetahuan kebudayaan yang seluas-luasnya di kalangan rakyat, sehingga rakyat mempunyai kultur, supaya kultur itu tidak terbatas pada kaum intelektual dan supaya rakyat yang berada di gunung dan pelosok desa pada satu kali dapat mengecap listrik dan radio. Ke puncak gunung yang paling tinggi di mana ada hidup rakyat kita, hendaknya dapat dialirkan kecerdasan manusia. Cita-cita ini pada satu kali mesti tercapai.

Selain dari itu suatu jaminan sosial terhadap buruh, penghidupan buruh, harus terpelihara pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Jaminan sosial ini sudah menjadi dasar internasional dan sudah disempurnakan di negara-negara yang modern, yaitu buruh bergantung dengan upahnya, menyimpan satu atau setengah persen dari pendapatannya pada tiap bulan, dan majikan memikul sebagiannya yang akan menghasilkan fonds pensiun bagi buruh tadi. Jaminan sosial terhadap anak dan istri buruh harus menjadi tuntutannya dari dasar negara kita. Inilah yang menjadi dasar dari negara kita.

Inilah dasar-dasar yang menjadi tujuan negara kita. Jikalau kita dapat berpegang kuat kepada dasar ini, maka kita akan dapat mencapai tujuan yang menjadi cita-cita kita; yaitu suatu Indonesia yang adil dan makmur, supaya rakyat dapat mengecap keadilan masyarakat dan kemakmuran di rohani dan jasmani.

*) Dikutip dari "Pancasila Harus Dipegang Teguh," pidato wakil presiden Dr. Mohammad Hatta pada rapat terbatas di Pematang Siantar, 22 November 1950

MENGUBAH DIRI DALAM BERBAGAI BENTUK.


MENGUBAH DIRI DALAM BERBAGAI BENTUK. Bung Karno tengah berpidato di pembukaan Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung, 18 April 1955. Bung Karno memulai pidato yang diberi judul Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru (Let a New Asia and New Africa Be Born) pada pukul 10.20 WIB dan mengakhirinya pukul 10.45 WIB. Berkat gagasan Bung Karno menyelenggarakan KAA tersebut, sejumlah negara di Asia-Afrika berhasil memperoleh kemerdekaannya. “Saya tegaskan kepada anda semua, kolonialisme belumlah mati. Dan, saya meminta kepada Anda jangan pernah berpikir bahwa kolonialisme hanya seperti bentuk dan caranya yang lama, cara yang kita semua dari Indonesia dan dari kawasan-kawasan lain di Asia dan Afrika telah mengenalinya. Kolonialisme juga telah berganti baju dengan cara yang lebih modern, dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual, dan kontrol langsung secara fisik melalui segelintir elemen kecil namun terasing dari dalam suatu negeri. Elemen itu jauh lebih licin namun bisa mengubah dirinya ke dalam berbagai bentuk.” Bung Karno, Pidato “Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru” pada pembukaan Konferensi Asia Afrika, Bandung, April 1955. Foto: Howard Sochurek/Life