DPC Granat Solok Kerjasama Dengan Sekolah Berantas Narkoba

Ketua DPC Granat Kota Solok Ilham Eka Putra.
Solok, (Antara Sumbar) – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Nasional Anti Narkotika (DPC Granat) Kota Solok akan melakukan kerja sama dengan pihak Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di daerah itu untuk membentuk rayon Granat di tingkat SLTA dan SLTP se-kota Solok.

“Hal ini kita lakukan untuk memperluas jaringan dan memantapkan kerja organisasi dalam mengantisipasi terjadi penggunaan dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang di Kota Solok,” kata Ketua DPC Granat Kota Solok Ilham Eka Putra di Solok, Selasa.

Ilham Eka Putra yang akrab dipanggil Eka ini menambahkan Kota Solok dengan posisinya sebagai daerah transit sangat mudah dimasuki narkoba dan sejenisnya, apalagi kalau kurangnya pengawasan dari aparat berwenang dan masyarakat.

“Makanya kita sebagai organisasi organisasi masyarakat, yang fokus dalam pemberantasan narkoba terus berkomitmen memerangi narkoba dan sejenisnya di Kota Solok demi keselamatan anak bangsa di daerah kita serta turut menjaga remaja yang duduk di bangku sekolah dan kuliah agar tidak terpengaruh dengan barang terlarang ini,” katanya.

Dalam melaksanakan tugasnya, tambah dia, DPC Granat telah membentuk kepengurusan di tingkat perguruan tinggi di kota Solok serta ikut mensosialisasikan bahaya narkoba di lingkungannya.

Selain itu DPC Granat Kota Solok juga telah bermitra dengan Badan Narkotika Kota (BNK) Solok dalam berbagai sosialiasi dan pencegahan bahaya narkoba bagi masyarakat, agar tidak bermain-main dengan narkoba.

“Penggunaan dan penyalahgunaan narkoba di daerah kita mulai mengkhawatirkan. Sebab dalam beberapa kali sosialisasi dan survey lapangan, kita juga menjumpai sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) menghisap lem di beberapa tempat di kota Solok. Tentu hal ini akan menimbulkan kecanduan buruk pada mereka,” katanya. (aur/jno)

ANTARA Sumbar

Wali Kota: BPK Solok Selalu Waspada

Solok, (Antara Sumbar) – Wali Kota Solok Irzal Ilyas meminta jajaran Unit Pelaksana Teknis Barisan Pemadam Kebakaran (UPT BPK) setempat selalu waspada setiap saat mengingat daerah itu termasuk daerah rawan bencana kebakaran.

“UPT BPK harus selalu siaga setiap saat guna mengantisipasi bahaya kebakaran dan meminimalisir terjadinya dampak bahaya kebakaran,” kata Wali Kota di Solok, Sabtu.

Irzal Ilyas juga mengimbau warga agar ikut mewaspadai bahaya kebakaran dengan cara memeriksa instalasi listrik rumah masing-masing secara rutin dan berkala, tidak menyambung arus listrik tanpa memperhatikan aspek teknis dan lainnya.

“Jika kita semua waspada tentu tingkat kejadian bahaya kebakaran dapat kita minimalisir,” katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Solok Altani menyampaikan lembaganya akan berupaya maksimal mengantisipasi bencana di Kota Solok, termasuk bahaya kebakaran.

“Saat ini personil kita secara rutin dan berkala selalu menggelar latihan penanggulangan bencana untuk meningkatkan kinerja mereka dalam mengatasi bencana,” katanya. (aur/jno)

ANTARA Sumbar

DOKTER PUSKESMAS SERING BOLOS : Warga Sirukam Kecewa

Solok – Singgalang Warga Sirukam, Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok kecewa terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas setempat. Nyaris saban hari, warga yang hendak memperoleh pelayanan dokter tidak terpenuhi. Pasalnya, dr.Salimahdani, satu-satunya dokter yang ditempatkan di Puskesmas tersebut sering bolos. Akibatnya, pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan di Puskesmas tersebut hanya dapat mengeluh tanpa tahu harus mengadu kemana. 

‘’Alah lamo sarupo iko keadaannyo pak. Kami acok ndak bisa basuo jo dotor (Sudah lama seperti ini keadaannya pak. Kami sering tidak bisa bertemu dengan dokter),’’ papar salah seorang pasien yang ditemui Singgalang yang tengah menantikan kehadiran dokter di Puskesmas Sirukam, Senin (4/3).

Menerima keadaan demikian, pasien Puskesmas Sirukam yang merupakan warga dari nagari-nagari Sirukam, Supayang atau Kubang Duo kerap kesal karena merasa diabaikan.
Bahkan, kendati Bupati Solok Syamsu Rahim terus mendesak petugas kesehatan mengedepankan pelayanan kesehatan, tetapi dokter Puskesmas Sirukam seolah tidak mengindahkannya.
Terkait hal itu, Pimpinan Puskesmas Sirukam Winova tidak menampik keadaan demikian.
Pihaknya mengaku telah berusaha membenahi manajemen Puskesmas Sirukam dengan mengedepankan kedisiplinan serta pelayanan yang tinggi di lingkungan Puskesmas tersebut. Namun ia ikut mengeluh, lantaran sikap dokter yang seolah imun terhadap teguran secara lisan maupun tertulis.

‘’Kita telah berusaha mem perbaiki kinerja petugas kesehatan disini. Bahkan kepada dokter juga kita peringatkan, baik dengan lisan mapun teguran tertulis. Tetapi nyatanya, kalau mau tempo, ya tempo saja dia,’’ papar Winova sembari menyebutkan laporan serupa juga telah dikirimkan ke Dinas Kesehatan Kab. Solok.

Menjawab Singgalang soal absensi dokter dimaksud, Winova menyebutkan, sepanjang tahun 2012, dr. Salimahdani tidak masuk kerja selama 53 hari. Sedangkan pada Januari 2013 yang bekerja hanya 7 hari dan pada Februari 2013, jumlah hari kerja yang bersangkutan cuma sebanyak 10 hari.
‘’Susahnya kalau pasien harus dirujuk atau meminta surat keterangan hasil visum. Itu menjadi kendala kalau dokter sering tidak masuk,’’ papar Pimpinan Puskesmas Sirukam itu sambil menyebutkan tempat domilisi dokter tersebut di Kota Solok.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kab. Solok, dr. Mirsal yang dikonfirmasi melalui telepon selulernya tentang prilaku dokter Puskesmas Sirukam itu, berjanji akan menindaklanjutinya.
Mirsal mengaku pihaknya memang menerima laporan soal kehadiran dokter tersebut. ‘’Kita sudah pernah memanggilnya. Tapi nantilah, kita panggil lagi,’’ jawab Mirsal.

Panggil Dinkes
Keluhan warga Sirukam tidak hanya bergema di sekitar Puskesmas. Kabar tentang seringnya dokter Puskes mas Sirukam juga didengar langsung oleh Wakil Ketua DPRD Kab. Solok Asrul Tanjung S. Ag. Masyarakat te lah lama merasa gundah menerima pelayanan Puskesmas yang seolah tanpa dokter.

‘’Kita mendesak Dinas Kesehatan membenahi manajemennya, terutama mengurus tenaga kesehatannya yang berada di Puskesmas,’’ kata Asrul yang juga koordinator Komisi A DPRD Kab. Solok.

Desakan yang sama juga disampaikan anggota DPRD Gusrial Abbas, S.Ag. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok yang merupakan putra nagari Sirukam itu terlihat gusar mendengar cara kerja dokter Puskesmas yang selalu bolos.

‘’Cara-cara seperti ini tidak bisa dibiarkan. Kita akan panggil Kepala Dinkes untuk hearing di Komisi A,’’ timpal Gusrial Abbas memastikan bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak bisa tawar-menawar. (503)

Solok Optimis Raih Adipura

Solok – Singgalang Tahun ini, Kota Solok optimis berhasil meraih prestasi Adipura ke-8 dalam penilaian pembudayaan kebersihan dan lingkungan.

Pemko melalui Dinas Ke bersihan, Tata Ruang dan Kantor Lingkungan Hidup bertekad bukan sekadar me raih Adipura ke-8, tetapi menyabet piala Adipura Ken cana sebagaimana prestasi yang diraih Kota Surabaya sekian kali hingga tahun lalu.
Kepala Dinas Kebersihan Kota Solok, Dedi Asmar me nyatakan hal itu, Kamis (14/3) menjawab Singgalang. Kota Solok menurutnya un tuk mewujudkan obsesi terse but telah lebih proaktif meningkatkan kualitas dengan melakukan pembanahan sasaran yang menjadi penilaian Adipura Kencana seperti menanam tanaman penghijauan.

Tahun 2012, kota ini gagal mewujudkan obsesi mendapatkan Piala Adipura Kencana lantaran nilai yang diraih masih di bawah 80. Sedangkan persyaratan untuk mendapatkan Piala Adipura Kencana adalah di atas 80. Kekurangan Kota Solok jika dibandingkan dengan Kota Surabaya, salah satu kota yang rutinitas mendapatkan Piala Adipura Kencana tidak terlepas dari masih jauh kurang kawasan yang rindang, karena terbatasnya pohon-pohon pelindung.

Tahun ini SKPD dan BUMN/D telah memperlihatkan lagi partisipasi mereka dengan membuat taman-taman bunga di pinggir jalan protokol. Kondisi ini mulai merangsang organisasi masyarakat juga amat diharapkan mengikuti jejak SKPD dan BUMN/D tersebut, sehingga kawasan di bawah pepohonan penghijauan dan pelindung itu lebih indah dipandang mata.

Menurut Dedi Asmar, di beberapa kawasan baik di komplek pemukiman, Pemko telah membangun rumah kompos serta lainnya. Keberadaan rumah kompos ini telah dimanfaatkan masyarakat untuk mengolah sampah basah menjadi kompos dan hasil karya masyarakat ini dibagi-bagikan untuk pupuk tanaman perkarangan termasuk berbagai jenis bunga. (209)

Ramalan #Cuaca Solok (18 maret -- 22 maret 2013)

Klik Untuk Memperbesar Gambar

Tradisi Silat Harimau, Filosofi Islam, dan Kepunahan

Kemajemukan negara yang disimbolkan "Bhineka Tunggal Ika" yang berarti berbeda-beda tapi satu jua kerap mengundang decak kagum dalam berbagai acara budaya internasional. Namun malangnya karena kurang pemeliharaan, budaya itu tak hanya dicaplok negeri serumpun, tapi juga terancam punah. Salah satu budaya yang berpotensi terancam adalah Pencak Silat, sebuah seni beladiri asli Indonesia.

Silat dipengaruhi keragaman budaya yang terdapat di tanah air maka tak mengherankan begitu banyak aliran pencak silat di Indonesia. Kekayaan filofosi, ritme gerak dan sinergi dengan musik tradisional menjadiknnya begitu berbeda.

Apa yang membuatnya terancam? Jika menengok kebelakang,Indonesia selalu dominan terhadap pencak silat. Di setiap penyelenggaraan pesta olahraga Asia Tenggara (SEA GAMES), Indonesia selalu menjadi jawara.

Namun, layaknya cabang lain seperti bulu tangkis, pencak silat lantas seolah mengalami kemunduran. Fakta kemudian berbicara, Vietnam lantas muncul sebagai negara yang mengkilap prestasinya melalui silat.

Belakangan, negara komunis tersebut tak lagi menjadi penggembira di cabang pencak silat bahkan bisa dikatakan calon penggusur Indonesia di pentas pencak silat. Bukan tak mungkin kekhawatiran nantinya pesilat Indonesia akan belajar disana bakal terwujud.

Silat Harimau

Begitu banyak jenis silat yang terdapat di nusantara menyulitkan untuk mengetahui asal muasal darimana pencak silat berasal. Praktisi dan Pemerhati Pencak Silat ssekaligus Sekjen Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Hariadi Anwar menyatakan selama ini belum bisa diketahui darimana pertama kali pencak silat berasal.

Namun, hanya bisa diketahui jenis aliran pencak silat di Indonesia yang berjumlah ribuan. Belum lagi, setiap daerah memiliki jenis Pencak Silat. sebut saja, Silat Betawi, silat Sunda dan silat Jawa.

Satu dari sekian banyak, silat nusantara yang terancam punah adalah silat harimau. Konon silat yang berasal dari warisan kerajaan Minangkabau kini tak banyak yang menguasai. Bahkan untuk orang minang sendiri tak banyak mengetahui.

Persoalan yang terjadi begitu klasik. Hal-hal berbau tradisional dianggap ketinggalan jaman alias "ga lagi canggih". Kenyataan tersebut diakui Hariadi.

"Dulu, orang yang berlatih silat itu malu-malu menenteng baju latihan. Dikatakan silat kalah tenar dari seni bela diri impor macam karate dan taekwondo," ujarnya.

Selain kalah tenar dengan seni bela diri Impor, proses mewarisi juga mandek. Hal itu yang kemudian menjadi masalah pada pelestarian warisan budaya Indonesia.

Silat Harimau tidak begitu mudah diturunkan ke sembarang orang. Pakem ini kemudian berakibat tidak terjadinya regenerasi pesilat Harimau. Hingga pada akhirnya, silat Harimau keluar dari pakem yang bisa membahayakan keberadaannya.

Kompromi dan "panggilan nurani" yang kemudian membuat Guru Besar Silat Harimau Edwel Yusri Datuk Rajo Gampo Alam atau yang akrab dipangil pak Datuk kemudian memperbolehkan silat Harimau untuk disebar luaskan.

Keputusan tersebut memang membutuhkan waktu panjang karena amanat leluhur yang diemban Pak Datuk untuk tidak sembarang mengajarkan silat Harimau begitu berat untuk dilepaskan.

Bebicara tentang silat Harimau, singkat cerita belumlah dikenal sebagai silat Harimau seperti sekarang. "Dulu belum dinamakan silat Harimau, namun kemudian ketika saya mewariskan dan berguru dengan ahli silat lain, lantas dinamakan silat Harimau," cerita Pak Datuk Saat ditemui Republika Online awal pekan lalu.

Setidaknya ada aliran-aliran silat di Minang yang lebih dahulu ada seperti Kuciang Siam, Anjiang Mualim ,dan Harimau Champa. Dari nama aliran terakhir kemudian Pak Datuk mengembangkan silat Harimau. Sebelum itu, dia berguru dengan berbagai ahli silat yang ada.

Kemudian dikembangkan dan lantas diberi nama silat Harimau. Terkait tahun berapa nama tersebut muncul, Pak datuk mengaku tidak bisa menyebutkan lantaran segala hal yang terkait asal muasal silat diwariskan secara lisan bukan tertulis.

Intisari silat Harimau terinspirasi dari gerak-gerakan Harimau. Kuda-kuda dan sikap waspada persis menyerupai Harimau. Maka tak heran, jika mitos yang berkembang mengatakan jika pesilat yang menguasai silat Harimau maka dirinya kelak akan berubah wujud menjadi Harimau.

Meski mitos yang berkembang seputar silat Harimau begitu kental. Seperti pencak silat lain, nuansa islami juga dominan dalam filosofi yang terkandung didalamnya.

Untuk belajar silat, guru memperkenalkan nilai-nilai agama lebih dulu kepada murid. Seperti pada tradisi Minang, silat zahir bertujuan mencari silaturahmi, batin silat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan jika ingin berniat jahat maka terlebih dahulu telah disingkirkan.

Filosofi tersebut tertuang dalam ungkapan," Awas rasa jangan hilang, berlantai sebelum roboh, bersiang menebas sebelum tumbuh."

Ungkapan lantas terimplementasi melalui gerakan kuda-kuda yang berdiri dengan huruf alif yang bermakna pesilat berdiri beserta Allah, berdiri dua kali menyerupai huruf lam dan berdiri dengan menyerupai huruf hijaiyah 'Kha'.

Karakter keras, bukan basa-basi dan tegas menjadi ciri utama ajaran silat harimau. Karena memang didesain untuk mematikan lawan dengan jurus-jurus berbahaya dengan menyerang langsung daerah vital musuh, baik dengan gaya lenting atau terkam Harimau.

Oleh karena itu, silat Harimau kemudian dikenal dengan silat beraliran keras. Demikian keras, hingga potensi penyalahgunaan ilmu begitu besar. Pak Datuk sendiri terbebani jikalau ada anak muridnya yang telah diajarkan kemudian menyalahgunakan.

Untuk mengatasinya, Pak Datuk kerap memberikan pendalaman agama disetiap sesi latihan guna memperkuat iman dan mental anak didiknya. Upacara Penerimaan Murid
Untuk mengikat anak muridnya dengan tanggung jawab sebagai pesilat Harimau, Pak Datuk selalu mengadakan upacara tradisional sebagai simbol pembaiatan terhadap anggota keluarga baru silat Harimau.

Upacara dilakukan ketika murid sudah siap secara lahir dan batin untuk menerima ilmu. Proses penerimaan itu pun tidak main-main karena didasarkan dengan "penerawangan" pak Datuk terhadap calon anak didiknya.

Pada prosesi upacara, calon murid akan diberikan pisau, yang memiliki makna semakin diasah semakin tajam. Artinya, anak murid harus melalui proses latihan panjang guna mahir menjadi pesilat Harimau.

Kemudian dilanjutkan, pemberian kain putih, hal ini dimaksudkan ketika sang murid berlatih silat maka harus memiliki hati yang bersih dan semua pasti akan berakhir atau mati. Pemberian beras oleh murid kepada guru yang diartikan sebagai murid jangan pernah menyusahkan gurunya.

Pemberian buah jeruk kuku Harimau, buah yang konon sudah langka di Minangkabau diartikan sebagai simbol kelurga silat Harimau.

Sirih lengkap, dimaksudkan untuk menandakan hubungan antara guru dan saudara lain memiliki satu rasa layaknya sirih yang berasa asam, asin, manis dan pahit dan terakhir, ayam jantan, dimaksudkan untuk mengingatkan pesilat harus mengingatkan orang lain atas kewajiban layaknya ayam yang membangunkan orang ketika azan subuh tiba.

Keunikan lain yang dimilik Silat Harimau antara lain dengan filosofi "langkah Ampe" yang begitu tertanam di orang-orang Minang. Jika tidak mengetahui keempat langkah dimaksud maka bukan orang Minang melainkan orang "kabau".

Tradisi tersebut kemudian tertanam dalam pesilat Harimau. Pertama yang harus diketahui pesilat Harimau, dirinya harus mengetahui dasar kata mendaki yakni menghormati orang yang lebih tua.

Tahu sikap mendatar, yakni harus mengetahui bagaimana dengan bersikap dengan teman sebaya. Harus tahu dasar kata menurun, yakni berlakukan seseorang dengan kasih sayang dan Melereng, harus mengetahui berbicara pada iparnya.

Usai lepas dari pakem yang menghambat perkembangan silat Harimau, kini keberadaan silat Harimau jauh lebih baik. Meski tak ingat jumlah murid yang diajarkan, tapi Pak Datuk mengaku puas. Paling tidak, silat Harimau bisa diturunkan walau belum banyak yang benar-benar menguasai. Apresiasi Asing Terhadap Silat Harimau Sepanjang ingatan Pak Datuk hanya ada tiga orang yang menguasai silat Harimau yakni satu orang Indonesia dan dua orang kebangsaan Inggris.

Ditnya mengapa orang asing bisa menguasai, menurut Pak Datuk karena kebanyakan orang asing yang belajar silat Harimau karena tertarik dengan keunikan filosofi dan ritme setiap gerakan yang tidak dimiliki seni beladiri lain.

"Tak heran, mereka begitu detail ingin mempelajari silat Harimau," tutur Pak Datuk.

Hal mencengangkan lain, ketika Silat Harimau kemudian didokumentasikan melalui sebuah film berjudul "Merantu", sutradaranya merupakan kebangsaan Inggris yang begitu tertarik terhadap keberadaan pencak silat.

Diakui Pak Datuk, permasalahan ketidaktertarikan masyarakat Indonesia terhadap budaya sendiri dikarenakan memang tidak pernah pertunjukan kebudayaan dikemas secara apik.

"Kemasan kurang bagus dan image yang ditumbuhkan cenderung negatif" seperti misal silat identik dengan dukun dan banyak juga info yang salah terkait silat seperti yang ditampilkan di televisi menjadi penyebab," ungkapnya.

Pak Datuk begitu berharap, keberadan pencak silat bisa menjadikan kebanggaan seperti yang sekarang terjadi. Namun, silat dikatakan tidak hanya untuk dipelajari bertujuan kompetisi saja melainkan juga filosofi yang terkandung didalamnya. Sebab yang kerap terjadi, silat hanya dipelajari untuk mengalahkan lawan dan mendapat poin bukan untuk mengamalkan filosofinya.

Optimisme keberlanjutan pencak silat dan terutama silat Harimau terus berdengung dihati Pak Datuk. Jika yang ingin berguru dengan dirinya, dengan tangan terbuka Pak Datuk bersedia mengajarkan.Selama berniat mengamalkan silat untuk kebaikan tidak menjadi masalah.

"Bangsa saya ini dikenal sebagai bangsa beradab dan berbudaya tinggi. Bila, saya keluar negeri dengan silat, bangsa-bangsa lain bisa menghormati," harapnya./cr2/itz


Sumber REPUBLIKA Sabtu, 23 Mei 2009

SILEK MINANGKABAU

Silek atau silat (bahasa Indonesia) adalah seni beladiri yang dimiliki oleh masyarakatMinangkabau, Sumatera Barat, Indonesia yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Masyarakat Minangkabau memiliki tabiat suka merantau semenjak beratus-ratus tahun yang lampau. Untuk merantau tentu saja mereka harus memiliki bekal yang cukup dalam menjaga diri dari hal-hal terburuk selama di perjalanan atau di rantau, misalnya diserang atau dirampok orang. Disamping sebagai bekal untuk merantau, silek penting untuk pertahanan nagari terhadap ancaman dari luar. Wilayah Minangkabau di bagian tengah Sumatera sebagaimana daerah di kawasan Nusantara lainnya adalah daerah yang subur dan produsen rempah-rempah penting sejak abad pertama masehi, oleh sebab itu, tentu saja ancaman-ancaman keamanan bisa saja datang dari pihak pendatang ke kawasan Nusantara ini. Jadi secara fungsinya silat dapat dibedakan menjadi dua yakni sebagai

panjago diri (pembelaan diri dari serangan musuh), dan
parik paga dalam nagari (sistim pertahanan negeri).Untuk dua alasan ini, maka masyarakat Minangkabau pada tempo dahulunya perlu memiliki sistem pertahanan yang baik untuk mempertahankan diri dan negerinya dari ancaman musuh kapan saja. Silek tidak saja sebagai alat untuk beladiri, tapi juga mengilhami atau menjadi dasar gerakan berbagai tarian dan randai (drama Minangkabau). Emral Djamal Dt Rajo Mudo (2007) pernah menjelaskan bahwa pengembangan gerakan silat menjadi seni adalah strategi dari nenek moyang Minangkabau agar silat selalu diulang-ulang di dalam masa damai dan sekaligus untuk penyaluran "energi" silat yang cenderung panas dan keras agar menjadi lembut dan tenang. Sementara itu, jika dipandang dari sisi istilah, kata pencak silat di dalam pengertian para tuo silek (guru besar silat) adalah mancak dan silek. Perbedaan dari kata itu adalah:

Kata mancak atau dikatakan juga sebagai bungo silek (bunga silat) adalah berupa gerakan-gerakan tarian silat yang dipamerkan di dalam acara-acara adat atau acara-acara seremoni lainnya. Gerakan-gerakan untuk mancak diupayakanseindah dan sebagus mungkin karena untuk pertunjukkan.

Kata silek itu sendiri bukanlah untuk tari-tarian itu lagi, melainkan suatu seni pertempuran yang dipergunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, sehingga gerakan-gerakan diupayakan sesedikit mungkin, cepat, tepat, dan melumpuhkan lawan. Para tuo silek juga mengatakan jiko mamancak di galanggang, kalau basilek dimuko musuah (jika melakukan tarian pencak di gelanggang, sedangkan jika bersilat untuk menghadapi musuh). Oleh sebab itu para tuo silek (guru besar) jarang ada yang mau mempertontonkan keahlian mereka di depan umum bagaimana langkah-langkah mereka melumpuhkan musuh. Oleh sebab itu, pada acara festival silat tradisi Minangkabau, maka penonton akan kecewa jika mengharapkan dua guru besar (tuo silek) turun ke gelanggang memperlihatkan bagaimana mereka saling serang dan saling mempertahankan diri dengan gerakan yang mematikan. Kedua tuo silek itu hanya melakukan mancak dan berupaya untuk tidak saling menyakiti lawan main mereka, karena menjatuhkan tuo silek lain di dalam acara akan memiliki dampak kurang bagus bagi tuo silek yang "kalah". Dalam praktek sehari-hari, jika seorang guru silat ditanya apakah mereka bisa bersilat, mereka biasanya menjawab dengan halus dan mengatakan bahwa mereka hanya bisa mancak (pencak), padahal sebenarnya mereka itu mengajarkan silek (silat). Inilah sifat rendah hati ala masyarakat Nusantara, mereka berkata tidak meninggikan diri sendiri, biarlah kenyataan saja yang bicara. Jadi kata pencak dan silat akhirnya susah dibedakan. Saat ini setelah silek Minangkabau itu dipelajari oleh orang asing, mereka memperlihatkan kepada kita bagaimana serangan-serangan mematikan itu mereka lakukan. Keengganan tuo silek ini dapat dipahami karena Indonesia telah dijajah oleh bangsa Belanda selama ratusan tahun, dan memperlihatkan kemampuan bertempur tentu saja tidak akan bisa diterima oleh bangsa penjajah di masa dahulu, jelas ini membahayakan buat posisi mereka.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa silat itu berasal dari kata silek. Kata silek pun ada yang menganggap berasal dari siliek, atau si liat, karena demikian hebatnya berkelit dan licin seperti belut. Di tiap Nagari memiliki tempat belajar silat atau dinamakan juga sasaran silek, dipimpin oleh guru yang dinamakan Tuo Silek. Tuo silek ini memiliki tangan kanan yang bertugas membantu beliau mengajari para pemula.
Orang yang mahir bermain silat dinamakan pandeka (pendekar). Gelar Pandeka ini pada zaman dahulunya dilewakan (dikukuhkan) secara adat oleh ninik mamak dari nagari yang bersangkutan. Namun pada zaman penjajahan gelar dibekukan oleh pemerintah Belanda. Setelah lebih dari seratus tahun dibekukan, masyarakat adat Koto Tangah, Kota Padang akhirnya mengukuhkan kembali gelar Pandeka pada tahun 2000-an. Pandeka ini memiliki peranan sebagai parik paga dalam nagari (penjaga keamanan negeri), sehingga mereka dibutuhkan dalam menciptakan negeri yang aman dan tentram. Pada awal tahun ini (7 Januari 2009), Walikota Padang, H.Fauzi Bahar digelari Pandeka Rajo Nan Sati oleh Niniak Mamak (Pemuka Adat) Koto Tangah, Kota Padang. Gelar ini diberikan sebagai penghormatan atas upaya beliau menggiatkan kembali aktivitas silek tradisional di kawasan Kota Padang dan memang beliau adalah pesilat juga di masa mudanya, sehingga gelar itu layak diberikan.


Sumber: Wikipedia

Penderita HIV/Aids di Kota Solok Bertambah Tiga Orang

Solok, (Antara Sumbar) - Jumlah penderita HIV/Aids di Kota Solok bertambah sebanyak tiga orang dalam kurun waktu tiga bulan belakangan, terhitung sejak Desember 2012 hingga pertengahan Maret 2013.

"Dengan pertambahan ini maka sejak tahun 2006 lalu, jumlah penderita HIV/Aids di Kota Solok tercatat sebanyak 27 orang," kata Ketua Komisi Penanggulangan Aids Kota Solok H. Suryadi Nudal di Solok, Jumat (15/3).

Dikatakan, dari 27 orang itu, sebanyak 11 orang di antaranya telah meninggal dunia, sementara 16 orang lainnya masih hidup, dan saat ini tinggal dan menetap di Kota Solok.

"HIV/Adis merupakan penyakit berbahaya dan ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menangulanginya agar penderita penyakit ini tidak meluas dan bertambah," kata dia.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok, Junaidi berharap KPA dan semua elemen masyarakat menyosialisasikan kepada masyarakat kalau HIV/Aids hanya bisa ditularkan melalui sex bebas, jarum suntik yang tidak steril, transfusi darah, cairan vagina, ASI dan cairan sperma.

"Jadi kalau ada yang yang bilang bahwa HIV/AIDS ini bisa menular melalui keringat, air liur atau handuk dan yang lainnya, itu semua tidak benar," katanya.

Disebutkan, untuk mengatasi penyakit berbahaya ini masyarakat Kota Solok harus lebih berhati-hati dan lebih mengetahui cara penularan dan ciri-ciri orang yang sudah terjangkit penyakit berbahaya ini. (**/aur/wij)

ANTARA Sumbar

SBY Batal Resmikan 100.000 Rumah Murah, Ketua REI Salahkan Djan Faridz

Jakarta - Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso menyebutkan ketidakhadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada peresmian 100.000 rumah sederhana tapak (RST) atau rumah murah yang diadakan di Solok, Sumatera Barat karena Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz.

Setyo mengatakan, Djan Faridz ternyata tidak memberikan surat rekomendasi untuk peresmian rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tersebut. Sehingga Presiden SBY membatalkan janjinya untuk hadir.

Dalam perbincangan dengan REI, Setyo mengaku salah satu alasannya adalah ketidaklayakan daerah peresmian yang dipilih.

"Itu akan kita pertanyakan di Menpera. Beliau bilang itu bukan kawasan yang layak untuk peresmian," ujar Setyo dalam konferensi pers terkait peresmian RST di Hotel Inna Muara, Padang, Rabu (13/3/2013)

Ia mengaku kecewa atas penilai sepihak dari Djan Faridz. Kawasan Solok yang dipilih, menurutnya adalah pengembangan kota baru. Selain itu, tiga kali peresmian sebelumnya juga telah dilakukan di Pulau Jawa.

"Karena itu pengembangan kota baru. Itu juga langsung habis kan," tegasnya.

Setyo juga menuturkan, kawasan tadi termasuk dalam 163 daerah tertinggal di Indonesia. Maka sangat pantas, jika ingin mengembangkan wilayah di luar Jawa yang juga merupakan cita-cita dari pemerintah.

"Itu kan kawasan di Solok iti adalah 163 daerah tertinggal, ya bagus kan," ujarnya.

Setyo mengaku akan mengirimkan surat kepada Kementerian Perumahan Rakyat untuk mempertanyakan hal tersebut. Ia butuh penjelasan yang lebih komprehensif dan bisa di terima seluruh anggota REI.

"Kita akan menulis surat alasan ketidaklayakan seperti apa, lebih jelasnya gimana," pungkas Setyo.

(hen/hen)

REI Kembali Resmikan 100 Ribu Unit RST

Solok, (Antara Sumbar) - Realestat Indonesia (REI) kembali meresmikan 104.042 unit rumah sejahtera tapak (RST) dan dibangun oleh anggota organisasi itu periode Januari-Desember 2012 di seluruh Indonesia.

"Ini peresmian 100.000 unit RST ke empat kalinya dibangun REI,"kata Ketua Umum DPP REI Setyo Maharso, sebelum peresmian 100 ribu unit itu di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Rabu.

Sebelumnya pada 2006 diresmikan oleh Presiden di Semarang (Jawa tengah), 2007 di Jonggol, (Jawa Barat) dan 2009 di Lamongan (Jawa Timur).

"Tahun ini lokasi peresmiannya kami pusatkan di luar Pulau Jawa, tepatnya di Perumahan Nuansa Griya Arosuka, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat," katanya.

Pemilihan lokasi tersebut, kata Setyo, berdasarkan saran dan permintaan Presiden secara lisan, sewaktu membuka Rakernas REI 2012 yang berjanji akan datang kembali meresmikan perumahan sederhana yang sudah dibangun oleh pengembang REI dan meminta lokasi peresmian RST, sebaiknya di luar Pulau Jawa.

"Kami melihat pengembang anggota REI juga banyak yang membangun RST di berbagai wilayah, tidak hanya di pulau Jawa. Alasan lain adalah karena sekaligus bertepatan dengan puncak perayaan HUT REI ke-41 yang dipusatkan di Kota Padang, Sumatera Barat pada 13-15 Maret 2013," katanya.

Ketidakhadiran Presiden pada peresmian tahun ini, tambah Setyo bukan karena Presiden tidak bersedia menepati janjinya, tetapi karena masalah teknis yakni situasi yang tidak memungkinkan Presiden RI untuk meninggalkan Jakarta setelah kunjungan muhibah keluar negeri.

"REI sudah mempersiapkan semua persyaratan, bahwa lokasi perumahan yang akan diresmikan secara simbolis itu adalah perumahan yang sesuai dengan Permenpera, dengan harga jual maksimal Rp88 juta dan pemiliknya juga menggunakan KPR FLPP,"kata Setyo.

Sebelumnya, Ketua Panitia Pelaksana Peresmian 100 ribu unit RST DPP REI 2013, Bally Saputra menyebutkan, Ketua DPD RI, Irman Gusman dijadwalkan meresmikan 100 ribu unit RST itu.

Tampak hadir Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno dan pihak terkait lainnya.(*/sun)

ANTARA Sumbar